Mengidolakan atau Menjadi Idola
Beberapa tahun
belakangan ini, negara di bagian Asia Timur sangat sukses dalam ranah
entertainment. Yang membuatnya menonjol adalah adanya boyband dan girlband dari
negara Korea Selatan, Jepang, dan sekitarnya. Para remaja saat ini mungkin
tidak asing lagi dengan EXO, BTS, Seventeen, NCT, GOT7, dan boyband yang lain lagi. Ditambah girlband yang juga tak kalah banyaknya
seperti Red Velvet, Twice, BlackPink, dan lain-lain. Mereka telah menjadi idola
bagi para remaja, bahkan orang dewasa.
Rasanya aneh, jika kita
sedang berkumpul dengan para penggila KPOP, namun kita tidak mengerti apapun
tentang hal tersebut. KPOP sudah seperti bahan wajib yang harus diketahui saat ini.
Fandom-fandom pun dibentuk untuk menghimpun sekelompok orang dengan idola yang
sama. Ini hal yang wajar karena masa remaja adalah masa yang menentukan jati
diri. Jati diri itu sendiri bisa dicari dengan meniru kepribadian idola yang
dipunyai.
Namun, bagaimana dengan
fans fanatik? Seseorang yang terlalu menyukai idolanya, hingga ia harus tahu apa
yang dilakukan idolanya hari itu, membeli semua merchandise yang harganya bisa ratusan hingga jutaan, hingga merasa
bahwa ia benar-benar mempunyai hubungan istimewa dengan idolanya biasa disebut
fans yang fanatik. Sebenarnya, gaya hidup yang seperti ini tidak terlalu sesuai
dengan profesi kita sebagai pelajar. Fans yang fanatik cenderung menghabiskan
sebagian waktu mereka hari itu untuk mencari tahu dan melihat idolanya via
internet. Bukankah tugas pelajar adalah belajar?
Daripada itu, lebih
baik kita sendiri yang mencoba menjadi idola orang lain. Yaitu menjadi orang
yang bisa dicontoh orang lain dalam sisi yang baik. Kita tidak harus menjadi
atau membentuk boyband seperti mereka. Banyak cara yang bisa dilalui dengan
memperbaiki gaya hidup kita. Tugas utama kita adalah belajar. Dengan banyak
belajar, wawasan pun menjadi bertambah. Seseorang akan lebih disegani jika ia
memiliki wawasan yang luas. Secara tak langsung, ia telah menjadi inspirasi
orang lain agar menirunya rajin belajar. Contoh lain, kita bisa melatih bakat
kita. Misalnya seseorang berbakat dalam hal seni, yaitu melukis. Kembangkan
bakat, kemudian tunjukkanlah bakat tersebut pada orang lain sehingga ia telah
membuat orang lain terinspirasi.
Jadi, menurut Anda,
mana yang lebih baik? Mempunyai idola merupakan hal yang wajar. Namun, menjadi
fanatik harus dihindari. Daripada itu, lebih baik kita mengembangkan potensi
diri, dan melakukan hal lain yang lebih bermanfaat agar mempunyai bekal untuk
masa depan.
Nama : Andini Firyal Pramesti
Kelas asal : X MIA 3
Kelompok : 3
Tema : Gaya Hidup
Komentar
Posting Komentar