Sepucuk Surat untuk Tere Liye

Akhir-akhir ini, Indonesia kau buat geger dengan pernyataan keberatanmu. Ya, keberatanmu terhadap pajak bagi seorang penulis. Tidak bisa dipungkiri—meskipun aku bukanlah seorang penulis kelas kakap sepertimu—hatiku terasa teriris. Miris mendengar kau berhenti menulis.
Kalau boleh aku cerita sedikit, aku adalah salah satu pembaca setiamu. Aku jatuh cinta pertama kali saat membaca karyamu yang berjudul Rindu. Setiap kalimat yang kau tulis sarat akan makna. Dilanjutkan dengan karyamu berjudul Bumi. Masih lekat dalam memoriku, bagaimana aku rela dimarahi oleh ayah dan ibuku karena tenggelam bersama kalimat yang kau tulis di novelmu. Belum sempat aku melanjutkan ke seri Bulan dan Matahari, aku membaca berita bahwa kau akan berhenti menulis. Sedih. Miris.
Kalau boleh aku berandai, berbekal keberatanmu, aku bertekad suatu saat nanti aku ingin memperbaiki situasi ini. Aku ingin menegakkan keadilan. Sekali lagi, meskipun aku hanya seorang penulis amatir, aku juga bercita-cita ingin menjadi penulis besar dan kritis sepertimu. Memiliki karya yang selalu berada di urutan teratas. Bertengger dalam kurun waktu tidak pendek.
Sudah terlalu lama Indonesia kita tercinta ini terlelap. Buta akan potensi anak bangsanya sendiri. Menganggap orang berpikiran kritis sepertimu sebagai musuh masyarakat. Padahal, justru orang sepertimulah yang bisa membuat sebuah dobrakan. Kalau boleh aku berharap, aku masih ingin hanyut dalam permainan kata-katamu. Menikmati karya-karyamu yang lain. Bagaimanapun, kau pernah mendapatkan ruang tersendiri di hatiku.

Salam,
Dari seseorang yang merindukan karyamu selanjutnya.

Komentar

Postingan Populer