Pahlawan Emansipasi Wanita di Indonesia



Apasih gender itu ? Pasti banyak dari kita yang masih salah mengartikan kata gender atau mungkin malah tidak tau apa itu gender. Pada dasarnya kita semua sudah tau bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, namun gender bukanlah jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.

  Gender sendiri lebih ditekankan pada perbedaan peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat, atau kebiasaan yang tumbuh dan disepakati dalam masyarakat. Berbeda dengan jenis kelamin, gender ini dapat diubah,dapat di petukarkan tergantung waktu dan budaya setempat.

  Di Indonesia sendiri gender sudah dibuat setara antara laki-laki dan perempuan, meskipun masih ada banyak orang yang menganggapnya berbeda. Kita sudah mengetahui bahwa dulu derajat perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. 

  Pada masa lalu, pendidikan menjadi suatu hal yang tabu bagi mayoritas perempuan Indonesia. Hanya perempuan dari keluarga terhomat atau keturunan ningrat saja yang mungkin mengenyam pendidikan. Meskipun begitu, mereka belum tentu dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi.

  Pekerjaan pun juga dibatasi, perempuan Indonesia hanya boleh bekerja di dalam rumah. Dalam artian mengerjakan perkerjaan rumah seperti masak dan membersihkan rumah. Tradisi ini terbentuk karena pola pikir masyarakat saat itu bahwa kodrat perempuan ialah menjadi istri yang baik. 

  Jika perempuan pada masa itu tertekan, berbeda dengan laki-laki.Laki-laki memiliki kebebasan untuk sekolah dan bekerja. Dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan dan pekerjaan pada masa itu merupakan hak seorang laki-laki.

  Namun akhirnya munculah seorang wanita yang memberontak karena kesenjangan ini. Cita-cita dan usaha yang dilakukan oleh R.A. Kartini semasa hidupnya dalam memperjuangkan hak perempuan merupakan bentuk dari gerakan emansipasi wanita yang menginginkan adanya kesetaraan gender antara perempuan dengan laki-laki 

  Bagi Kartini  pendidikan itu sangatlah penting dan tidak hanya untuk kaum laki-laki saja. Kaum perempuan pun juga berhak untuk merasakan pendidikan hingga jenjang yang tinggi.Ia juga tidak setuju dengan tradisi yang mengharuskan perempuan berada di rumah dan mengurus urusan rumah tangga saja.Baginya, dengan memiliki pendidikan tinggi, ketika seorang perempuan menjadi seorang istri, ia akan bisa mengurus rumah tangga dan mendidik anak dengan baik. Pada masanya, Kartini pun mendirikan sekolah yang diperuntukkan bagi perempuan Indonesia masa itu sebagai perwujudan dari cita-citanya.

  Tak hanya Kartini saja yang menjadi pahlawan untuk perempuan di Indonesia.Dewi Sartika pun turut ikut mengangkat gender wanita.Dewi Sartika pun merasakan adanya kesenjangan sosial di lingkungan ia berada. Perempuan Indonesia pada masanya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan sebagaimana kaum laki-laki. Oleh karena itu,Dewi Sartika pun membangun sekolah khusus perempuan.

  Beruntunglah Indonesia mempunyai R.A.Kartini dan Dewi Sartika yang membela kesetaraan gender.Yang membuat perempuan Indonesia masa kini memiliki kehidupan yang lebih baik di banding masa lalu. 

  Oleh karena itu, sudah seharusnya kita  perempuan Indonesia tidak menyia-nyiakan hasil dari perjuangan perempuan Indonesia pada masa lalu yang menginginkan perempuan Indonesia dapat memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi dan dapat berkegiatan di luar rumah.

Nama: Raissa Ratu Triadma
Kelas:10
Kelompok: 3
Tema:Gender

Komentar

Postingan Populer