Antara Nilai dan Kejujuran

Bicara masalah nilai, mungkin yang ada di benak pembaca adalah ujian, tes tulis, remedial, dan lain-lain. Nilai bisa diartikan sebagai suatu hasil dari apa yang telah kita perbuat. Namun, kata ‘Nilai’ di sini mengacu pada poin hitam di atas putih.
Saat ujian, tidak semua siswa belajar saat malam hari sebelumnya. Ada yang membantu orang tua, acara keluar rumah, tertidur, bermain, atau alasan yang lain. Jika tidak belajar, kemungkinan yang terjadi adalah mencontek. Mencontek di sini adalah kegiatan menyalin/meniru jawaban dari orang lain saat ujian. Hampir semua orang pasti pernah mencontek ataupun memberikan contekan. Semua dilakukan karena orang-orang zaman sekarang lebih menghargai nilai daripada usaha yang dilakukan untuk mencapai nilai tersebut.
Kisah saya sendiri, saat SMP dulu, kaget awalnya melihat banyak teman dan kakak kelas yang mencontek saat UTS (ujian tengah semester) karena saya sendiri belum pernah mencontek saat itu. Saya lebih suka mengosongkan lembar jawaban daripada harus meniru jawaban teman. Saat saya bertanya pada salah satu teman, responnya kurang lebih adalah, “Ya biar nilaiku bagus. Kenapa ya, kan aku ngga belajar semalam, dan ada yang belajar jadi yaudah.” Ada lagi, “Aku sudah belajar, tapi ngga paham. Sudah merangkum banyak tapi sulit dihafalkan.” Semua pelajar pasti mengalami kesulitan jenis ini.
Namun, apa alasan tidak belajar? Secara tidak langsung, mengerjakan tugas juga belajar. Kita harus mampu mengatur waktu dan menyesuaikan dengan cara belajar kita. Sedikit membahas gaya hidup, banyak yang lebih memilih bermain handphone, menonton televisi, bermain game online, dan tak jarang berpacaran. perlu diingat, tugas utama seorang pelajar adalah belajar.
Itu pemikiran saya dahulu. Dan karena sudah mendapat pengaruh saat SMP dulu, saya mulai melakukan hal sejenis itu, yaitu memberikan contekan kepada orang lain. Karena jujur saja, saya sering dikatai ‘pelit’ atau ‘sombong’ jika tidak memberikan contekan.mulai dari situlah saya mulai memberikan contekan, tetapi sampai saat ini saya belum pernah mencontek. Pasti ada rasa tidak enak saat memberi contekan karena tidak terbiasa. Jadi, hingga sekarang, saya lebih memilih pura-pura diam dan jika doi memanggil keras baru saya hiraukan.
Namun sekarang, sudah seharusnya saya membelok lagi ke arah yang lurus. Tanpa menyontek dan memberikan contekan. Saat SMP, tidak mencontek dan dapat nilai 85 rasanya biasa. Namun saat SMA ini, mendapat 85 tanpa memberikan contekan dan mencontek rasanya sangat bangga dan bahagia.inilah perbedaannya. Dengan kejujuran, semuanya terasa lebih sempurna. Jika tidak jujur, mungkin sikap saat ditulis di rapor jadi B, hati menjadi risau (yang saya alami adalah anak yang saya beri contekan nilaiya lebih tinggi daripada saya) dan walaupun mendapat 100, pasti rasanya tidak puas. Saya lebih menghargai seseorang dengan nilai rendah, namun ia mengerjakan semuanya degan jujur.

Para orang tua nih, biasanya yang meminta anaknya mendapat nilai tinggi. Para orang tua juga seharusnya lebih menghargai usaha, tak hanya mementingkan nilai. Seharusnya bukan nilai saja yang ditanya, tetapi tanyakan juga bagaimana proses mengerjakannya, jujur atau tidak. Karena jujur lebih tinggi derajatnya daripada nilai yang hanya berupa hitam di atas putih.

Nama : Andini Firyal Pramesti
Kelas asal : X MIA 3
Kelompok : 3

Komentar

Postingan Populer